Thursday, August 9, 2007

Krakatau

Seperangkat bonang yang memiliki beragam laras mulai dari Pelog, Slendro dan Madenda diletakkan dibibir panggung. Dwiki Dharmawan berdiri disebelah Ade Rudhiana dan Zainal Arifin, ketiga memukul perangkat gamelan itu sehingga memunculkan beragam bunyi yang tak beraturan tapi unik. Dibelakangnya Pra Budi Dharma memukul kendang berukuran agak besar mengikuti bebunyian bonang.
Penonton berteriak dan memberikan applause yang meriah.Itulah akhir lagu Rhytms of Reformation yang membungkus konser pertama Krakatau di Montreux Jazz Festival yang tahun ini memasuki usianya yang ke 39. Festival bergengsi yang dilangsungkan ditepi danau ini dihadiri ribuan orang dari berbagai negara.
Krakatau tampil pada hari pertama ini di Parc de Vernex. Venue yang terletak ditaman disebelah Miles Davis Hall. Lansekap pertunjukan yang menghadap kearah danau dan sebagian bukit disebelah kanan panggung. Sebagian penonton menggelar tikar didepan panggung, sebagian lain, tidur-tiduran dibukit kecil disisinya.
Krakatau tampil kurang lebih 60 menit dengan membawakan lagu-lagu antara lain Gank4, Egrang Funk, Bunga TembagaShufflendang, Tugu Hegar, Bandung Spirit, Uhang Jaeuh, Tarek Pukat dan Rhythms of Reformation. Materi yang disajikan ini diambil dari berbagai album yang telah dirilis oleh kelompok yang telah lebih dari 10 tahun konsisten dengan konsep musik mengusung fusi Karawitan dan Jazz ini.
***
Misi Budaya Krakatau ke Eropa tahun 2005 ini terdiri dari 12 orang anggota tim. Dwiki Dharmawan (Keyboard & Syntesizer), Pra Budi Dharma (Electric Fretless Bass), Adhe Rudhiana (Kendang and Percussions), Yoyon Dharsono (Multi Traditional Instruments), Zainal Arifin (Gamelan and Percussions), Gerry Herb (Drummer) dan vokalis Nya Ina Raseuki yang akrab dipanggil Ubiet. Bersama rombongan turut mendukung Grace Anna Marie (tour manager), Wahyu Cahyono dan Boy Nuskan (sound enginer), Iko (cameraman) dan Agus Setiawan Basuni (photographer).
Dua hari sebelumnya Krakatau juga tampil luar biasa di Carel Willinkzaal, North Sea Jazz Festival, Den Haag Belanda. Selain itu sempat pula tampil di Heat the Hague, Plains Den Haag, dan Galapajazz di Galapagar, Spanyol.
Rangkaian tur Krakatau ke Spanyol, Belanda, Swiss dan Italia ini didukung sepenuhnya oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri beserta jajaran pendukung antara lain Kedutaaan Besar di Madrid, Den Haag dan Roma serta Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Geneva.
***
Krakatau sendiri sudah berkeliling dunia dan bermain diberagam festival jazz dan musik kelas dunia. Tahun lalu saja, mereka mengeliling 10 tempat di Amerika Serikat dan Kanada. Vancouver International Jazz Festival, St. Paul Hot Summer Jazz Festival, Toronto Downtown International Jazz Festival, Madison Summer Jazz Festival dan Colorado Summer Music Festival adalah festival yang menghadirkan Krakatau dipanggung mereka.
Sungguh sebuah catatan yang manis dari kelompok yang kini telah merilis 4 album - dua diantaranya yang merupakan album gabungan kolaborasi dan perkusif belum dirilis resmi di Indonesia - untuk tampil di Montreux Jazz Festival ini.
Sejumlah panitia dan juri di Montreux Jazz Festival ada yang menghampiri anggota Krakatau seusai pertunjukan kemarin. Mereka mengatakan bahwa Krakatau lebih pantas lagi tampil di Miles Davis Hall. "Benar-benar band dengan kualitas tinggi", demikian yang dikutip oleh Wartajazz.com dari Alex, Stage Manager yang menangani panggung Parc de Vernex.
Hari ini rencananya Krakatau akan kembali tampil di stage Under the Sky : Rouvenaz. Dan pada hari Kamis, 14 Juli 2005 akan tampil di Jardin Anglais, Geneva sebelum melanjutkan tur ke Italia, manggung di Roma dan Sicilia. (*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)

Sambasunda

In a fast-changing Indonesia a new generation of musicians are taking on the task of redefining their rich musical heritage for the new millennium. 17-piece(!) ensemble SambaSunda bring together a dazzling array of instruments and influences to create a new style Gamelan orchestra and the most exciting musical voice out of the archipelago today.
Led by composer and multi-instrumentalist Ismet Ruchimat, who started his career in 1989 in Gugum Gumbira's famous Jugala Orchestra, and bred on the creative grounds of Bandung’s prominent STSI arts college, SambaSunda have more than seven local releases to their credit. Already a local phenomenon, this best-kept Indonesian secret is now ready burst into the international scene, with a sparkling international CD release.
SambaSunda come from Bandung, the bustling capital and cultural centre of Western Java, more commonly known as Sunda. The Sundanese are the second largest ethnic group in Indonesia with a unique language and culture.
The group updates the lilting sounds of Sundanese gamelan degung and the angklung bamboo instruments by adding elements of Jakarta's kroncong, Sunda's jaipong, Balinese kebyar and the Brazilian rhythm of samba. The classic sounds of the traditional instruments evoke not only past splendour but also the bustling, urban energy of Bandung today: A full sound palette from the deep resonance of the mighty gongs to the silvery eloquence of the suling bamboo flute, complete with a heavyweight percussion section, wild vocal chanting known as senggak and the truly breathtaking vocal skills of singer Rita Tila.
The result is a mesmerizing mix that manages, strangely, to be both relentlessly exciting and languidly tranquil, full of explosive energy and seductive sweetness. Both reassuringly familiar and daringly innovative at home in Bandung, this is a dazzling new sound for the rest of the world to discover.
After a hugely successful European debut in 2003, the autumn of 2005 finally sees their first international recording released worldwide on renowned German label Network. A new major international tour will follow in summer 2006. The “coolest band to come out of Indonesia yet” is definitely one to watch for more to come!