Thursday, August 9, 2007

Krakatau

Seperangkat bonang yang memiliki beragam laras mulai dari Pelog, Slendro dan Madenda diletakkan dibibir panggung. Dwiki Dharmawan berdiri disebelah Ade Rudhiana dan Zainal Arifin, ketiga memukul perangkat gamelan itu sehingga memunculkan beragam bunyi yang tak beraturan tapi unik. Dibelakangnya Pra Budi Dharma memukul kendang berukuran agak besar mengikuti bebunyian bonang.
Penonton berteriak dan memberikan applause yang meriah.Itulah akhir lagu Rhytms of Reformation yang membungkus konser pertama Krakatau di Montreux Jazz Festival yang tahun ini memasuki usianya yang ke 39. Festival bergengsi yang dilangsungkan ditepi danau ini dihadiri ribuan orang dari berbagai negara.
Krakatau tampil pada hari pertama ini di Parc de Vernex. Venue yang terletak ditaman disebelah Miles Davis Hall. Lansekap pertunjukan yang menghadap kearah danau dan sebagian bukit disebelah kanan panggung. Sebagian penonton menggelar tikar didepan panggung, sebagian lain, tidur-tiduran dibukit kecil disisinya.
Krakatau tampil kurang lebih 60 menit dengan membawakan lagu-lagu antara lain Gank4, Egrang Funk, Bunga TembagaShufflendang, Tugu Hegar, Bandung Spirit, Uhang Jaeuh, Tarek Pukat dan Rhythms of Reformation. Materi yang disajikan ini diambil dari berbagai album yang telah dirilis oleh kelompok yang telah lebih dari 10 tahun konsisten dengan konsep musik mengusung fusi Karawitan dan Jazz ini.
***
Misi Budaya Krakatau ke Eropa tahun 2005 ini terdiri dari 12 orang anggota tim. Dwiki Dharmawan (Keyboard & Syntesizer), Pra Budi Dharma (Electric Fretless Bass), Adhe Rudhiana (Kendang and Percussions), Yoyon Dharsono (Multi Traditional Instruments), Zainal Arifin (Gamelan and Percussions), Gerry Herb (Drummer) dan vokalis Nya Ina Raseuki yang akrab dipanggil Ubiet. Bersama rombongan turut mendukung Grace Anna Marie (tour manager), Wahyu Cahyono dan Boy Nuskan (sound enginer), Iko (cameraman) dan Agus Setiawan Basuni (photographer).
Dua hari sebelumnya Krakatau juga tampil luar biasa di Carel Willinkzaal, North Sea Jazz Festival, Den Haag Belanda. Selain itu sempat pula tampil di Heat the Hague, Plains Den Haag, dan Galapajazz di Galapagar, Spanyol.
Rangkaian tur Krakatau ke Spanyol, Belanda, Swiss dan Italia ini didukung sepenuhnya oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri beserta jajaran pendukung antara lain Kedutaaan Besar di Madrid, Den Haag dan Roma serta Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Geneva.
***
Krakatau sendiri sudah berkeliling dunia dan bermain diberagam festival jazz dan musik kelas dunia. Tahun lalu saja, mereka mengeliling 10 tempat di Amerika Serikat dan Kanada. Vancouver International Jazz Festival, St. Paul Hot Summer Jazz Festival, Toronto Downtown International Jazz Festival, Madison Summer Jazz Festival dan Colorado Summer Music Festival adalah festival yang menghadirkan Krakatau dipanggung mereka.
Sungguh sebuah catatan yang manis dari kelompok yang kini telah merilis 4 album - dua diantaranya yang merupakan album gabungan kolaborasi dan perkusif belum dirilis resmi di Indonesia - untuk tampil di Montreux Jazz Festival ini.
Sejumlah panitia dan juri di Montreux Jazz Festival ada yang menghampiri anggota Krakatau seusai pertunjukan kemarin. Mereka mengatakan bahwa Krakatau lebih pantas lagi tampil di Miles Davis Hall. "Benar-benar band dengan kualitas tinggi", demikian yang dikutip oleh Wartajazz.com dari Alex, Stage Manager yang menangani panggung Parc de Vernex.
Hari ini rencananya Krakatau akan kembali tampil di stage Under the Sky : Rouvenaz. Dan pada hari Kamis, 14 Juli 2005 akan tampil di Jardin Anglais, Geneva sebelum melanjutkan tur ke Italia, manggung di Roma dan Sicilia. (*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)

Sambasunda

In a fast-changing Indonesia a new generation of musicians are taking on the task of redefining their rich musical heritage for the new millennium. 17-piece(!) ensemble SambaSunda bring together a dazzling array of instruments and influences to create a new style Gamelan orchestra and the most exciting musical voice out of the archipelago today.
Led by composer and multi-instrumentalist Ismet Ruchimat, who started his career in 1989 in Gugum Gumbira's famous Jugala Orchestra, and bred on the creative grounds of Bandung’s prominent STSI arts college, SambaSunda have more than seven local releases to their credit. Already a local phenomenon, this best-kept Indonesian secret is now ready burst into the international scene, with a sparkling international CD release.
SambaSunda come from Bandung, the bustling capital and cultural centre of Western Java, more commonly known as Sunda. The Sundanese are the second largest ethnic group in Indonesia with a unique language and culture.
The group updates the lilting sounds of Sundanese gamelan degung and the angklung bamboo instruments by adding elements of Jakarta's kroncong, Sunda's jaipong, Balinese kebyar and the Brazilian rhythm of samba. The classic sounds of the traditional instruments evoke not only past splendour but also the bustling, urban energy of Bandung today: A full sound palette from the deep resonance of the mighty gongs to the silvery eloquence of the suling bamboo flute, complete with a heavyweight percussion section, wild vocal chanting known as senggak and the truly breathtaking vocal skills of singer Rita Tila.
The result is a mesmerizing mix that manages, strangely, to be both relentlessly exciting and languidly tranquil, full of explosive energy and seductive sweetness. Both reassuringly familiar and daringly innovative at home in Bandung, this is a dazzling new sound for the rest of the world to discover.
After a hugely successful European debut in 2003, the autumn of 2005 finally sees their first international recording released worldwide on renowned German label Network. A new major international tour will follow in summer 2006. The “coolest band to come out of Indonesia yet” is definitely one to watch for more to come!

Monday, July 30, 2007

Discuss

Discus adalah sebuah group musik beraliran PROGRESSIVE yang telah berprestasi internasional. Album-album rekaman musik Discus telah beredar secara internasional dengan dirilis oleh perusahaan rekaman Italia, Perancis dan Jepang serta mendapat pujian dari kritikus musik di media musik progressive di berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Inggeris, Jerman, Perancis, Switzerland, Jepang, Belgia, Argentina, Brazil, Italia serta Mexico. Bahkan majalah musik Belgia, Prog-resiste, menempatkan album Discus "1st" sebagai album progressive kelima terbaik sedunia tahun 1999. Discus pun telah tampil melakukan konser di Amerika Serikat, Mexico, Switzerland dan Jerman. Di tanah air, Discus meraih dua buah piala penghargaan AMI SAMSUNG AWARD pada tahun 2004 serta dianggap oleh majalah musik edisi lokal MTV Trax sebagai salah satu dari 25 musisi paling berpengaruh di Indonesia, bersama dengan tokoh lainnya seperti Titiek Puspa dan Koes Plus.

Sebuah website musik Jerman, http://www.ragazzi-music.de/ yang memiliki hit rate sebesar 70.000 per bulan menulis bahwa Discus adalah contoh bagi dunia bahwa pemeluk agama yang berbeda-beda dapat bermain musik bersama dengan damai dengan hasil yang sangat efektif. Tidak mengherankan apabila di Jerman, kedatangan Discus pernah disambut secara khusus oleh Marion Schaffer, walikota Wurzburg. Hal ini juga membuktikan ditangkapnya visi pluralisme dalam musik Discus di mancanegara. Visi pluralisme tersebut tertuang dalam lirik serta komposisi musik Discus yang sejak awal sarat berbagai budaya dan tradisi. Musik tradisi etnis Bali, Toraja, Aceh, Jawa, Sunda, serta Timur Tengah diramu dengan musik barat dari tradisi rock, jazz, Latin, dan klasik Eropa.

Dalam penampilan di Festival Musik Bambu Nusantara mendatang, Discus akan berkolaborasi dengan Gamelan Saraswati pimpinan I G Kompiang Raka, yang telah kerap berkolaborasi dengan Discus sejak tahun 2001 dalam penampilan di Mexico. Gamelan Saraswati akan mengusung perangkat rindik, instrumen bambu asal Bali. Akan ditampilkan juga instrumen bambu berupa alat tiup, perkusi dan gesek dari Makassar seta Toraja.

Friday, July 27, 2007

Kecapi Suling

Kacapi Suling merupakan perangkat waditra Sunda yang terdapat hampir di setiap daerah di Tatar Sunda. Waditranya terdiri dari Kacapi dan Suling. Kacapinya terdiri dari Kacapi Indung atau Kacapi Parahu atau Kacapi Gelung. Selain disajikan secara instrumentalia, Kacapi Suling juga dapat digunakan untuk mengiringi Juru Sekar yang melantunkan lagu secara Anggana Sekar atau Rampak Sekar. Lagu yang di sajikannya di antaranya : Sinom Degung, Kaleon, Talutur dan lain sebagainya. Laras yang di pergunakannya adalah laras Salendro, Pelog atau Sorog.

Berbeda dengan sebutan Kacapi Suling atau Kacapian bila menggunakan Kacapi Siter. Sudah lazim selain Kacapi Siter dan Suling di tambah pula 1 (sate) set Kendang dan 1 (satu) set Goong. Laras yang di pergunakannya sama seperti laras yang biasa di pergunakan pertunjukan Kacapi Suling yang mempergunakan Kacapi Parahu yaitu" laras Salendro, Pelog, Sorog. Kecapi Suling yang mempergunakan Kecapi Siter, selain menyajikan instrumentalia juga di pergunakan untuk mengiringi nyanyian (kawih) baik secara Anggana Sekar maupun secara Rampak Sekar.
Lagu-lagu yang disajikan secara Anggana Sekar yaitu seperti : Malati di Gunung Guntur, Sagagang Kembang Ros dan lain sebagainya. Sedangkan untuk Rampak Sekar di antaranya Seuneu Bandung, Lemah Cai dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya baik Kacapi Suling yang menggunakan Kacapi Parahu maupun Kacapi Sitter, sering di pergunakan untuk mengiringi Narasi Sunda dalam acara Ngaras dan Siraman Panganten Sunda, Siraman Budak Sunatan, Siraman Tingkeban.
Selain instrumentalia disajikan pula lagu-lagu yang rumpakanya disesuaikan dengan kebutuhan acara yang akan di laksanakan. Lagu yang disajikan diambil dari lagu-lagu Tembang Sunda Seperti diantaranya Candrawulan, Jemplang Karang, Kapati-pati
atau Kaleon dan lain sebagainya. Ada pula yang mengambil lagu-lagu kawih atau lagu Panambih pada Tembang Sunda seperti di antaranya Senggot Pangemat, Pupunden Ati dan lain sebagainya.

Disamping perangkat Kecapi dan Suling ada pula perangkat Kecapi Biola dan Kecapi Rebab yang membawakan lagu-lagu yang sama. Dalam penyajiannya, Kecapi memainkan bagian kerangka iramanya sedangkan bagian lagunya di mainkan oleh Suling, Biola atau Rebab. Adapun tangga nada atau laras yang dalam Karawitan Sunda di sebut dengan Surupan, ada pula yang di sebut dengan Salendro, Pelog dan Sorog.
(Sumber : www.westjavatourism.com)

Sasando

Alkisah, ada seorang pemuda bernama Sangguana di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Suatu hari ia menggembala di padang sabana. Ketika merasa lelah dan ngantuk, ia pun jatuh tertidur di bawah sebuah pohon lontar. Dalam tidur, ia bermimpi memainkan sebuah alat musik misterius. Ketika terbangun ia masih mengingat nada-nada yang dimainkannya. Saat kembali tidur, anehnya ia kembali memimpikan hal yang sama. Akhirnya, berdasarkan mimpinya itu Sangguana memutuskan membuat sebuah alat musik dari daun lontar dengan senar-senar di tengahnya.

Alat musik yang mirip harpa itu sekarang dikenal sebagai sasando. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Konon sasando digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7.
Bentuk sasando ada miripnya dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola
dan kecapi. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan
di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas ke
bawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada
setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang
terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini
merupakan tempat resonansi sasando.

Dalam khazanah bunyi di Nusantara, sasando termasuk unik. Instrumen dengan sistem tangga nada heksatobik atau enam nada ini mempunyai gaya melodi yang terdengar lain dibandingkan dengan musik lain di Indonesia.Kekhasan musik Sasando bisa dinikmati di Festival Musik Bambu Nusantara, 18-19 Agustus 2007 di Jakarta International Expo. Selain Sasando, musik tradisional lainnya akan ikut mewarnai event ini.

Festival Musik Bambu Nusantara diselenggarakan sebagai wujud nyata pelestarian budaya bangsa sekaligus memperingati 62 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. (dari berbagai sumber)

Thursday, July 12, 2007

Suling Susun Enrekang

Sulin susun enrekang, alat musik tradisional Suku Massenrengpulu, Kabupaten Enrekang,
Sulawesi Selatan, yang terancam punah, akan kembali ditampilkan di Festival Musik Bambu Nusantara, 18-19 Agustus 2007 di Jakarta International Expo. Mungkin banyak yang tidak tahu apa itu suling susun enrekang, bagaimanakah alunan musiknya.

Sulin susun enrekang disebut masyarakat Suku Massenrengpulu (Maiwa, Duri dan Enrekang) sebagai musik bas, semua peralatannya terbuat dari bahan bambu pelang atau petung, bentuknya menyerupai peralatan musik angklung dari Jawa Barat. Angklung dan musik bas dimainkan secara berkelompok. Bedanya, alat musik angklung mengandalkan bunyi suara bamboo, sedangkan musik bas adalah alat musik tiup. Alat tiup itu pun terus berkembang dan menjadi sarana hiburan rakyat di pedalaman Enrekang, dilengkapi alat tabuh yang dibuat dari kulit sapi dan dimainkan beramai-ramai pada saat upacara adat, menyambut musim panen atau pesta rakyat.

Dalam legenda rakyat Massenrengpulu, alat itu konon ditemukan oleh seorang pengembala kerbau. Awalnya ia membuat alat tiup dari batang merang padi yang dimainkan di atas kerbau sambil menunggui padi di kaki Gunung Bambapuang. Sang pengembala kemudian mengganti alat tiup dari batang merang itu dengan bambu dan terciptalah suling bamboo dengan suara yang lebih merdu dari suara yang ditimbulkan batang merang padi.

Pada zaman pendudukan Belanda, musik bas mengalami perkembangan, meskipun teknik pembuatannya sangat tradisional. Aturan solmisasinya semakin sempurna karena nadanya diselaraskan dengan menggunakan standar suara garpu tala. Selain suling, peralatan musik itu dilengkapi alat bas terbuat dari bambu berukuran sedang. Untuk bas A terdiri nada do, mi, sol, bas B nada fa, la. Sedangkan bas C terdiri dari nada re dan si.

Musik bambu sebagai musik warisan leluhur ini sepertinya tak bisa dibiarkan punah begitu saja. Perlu pelestarian nyata oleh seluruh lapisan masyrakat. Merupakan tugas bersama untuk tetap mempertahankan alunan musik suling susun enrekang di tanah air tercinta. Semoga dengan dihadirkannya pertunjukkan suling susun enrekang di festival Musik Bambu mendatang, akan memberikan pencerahan bagi masa depan musik bambu Indonesia.

Jegog Bali

Gamelan Jegog yang merupakan kesenian khas kabupaten Jembrana, Bali.
Jegog adalah alat musik yang terbuat dari pohon bambu berukuran besar yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi seperangkat alat musik bambu.
Awalnya, kesenian Jegog diciptakan oleh seniman bernama Kiyang Geliduh dari Desa Dangintukadaya pada tahun 1912. Kata “Jegog” diambil dari instrumen Kesenian Gong Kebyar yang paling besar. Kesenian Jegog hanyalah berupa tabuh (barung tabuh) yang fungsi awalnya sebagai hiburan para pekerja bergotong royong membuat atap rumah dari daun pohon rumbia, dalam istilah bali bekerja bergotong royong membuat atap dari daun pohon rumbia disebut “nyucuk”, dalam kegiatan ini beberapa orang lagi menabuh gamelan jegog.
Dalam perkembangan selanjutnya Gamelan Jegog juga dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan, resepsi pernikahan, jamuan kenegaraan, dan kini sudah dilengkapi dengan drama tarian-tarian yang mengambil inspirasi alam dan budaya lokal seperti yang namanya Tabuh Trungtungan, Tabuh Goak Ngolol, Tabuh Macan Putih dengan tari-tariannya seperti Tari Makepung, Tari Cangak Lemodang, Tari Bambu, sebagai seni pertunjukan wisata.
Sebagai sebuah pertunjukkan, Jegog sangat layak untuk dinikmati. Masyarakat bisa menikmati Jegog tidak hanya di Jimbaran, tapi juga di Festival Musik Bambu Nusantara, 18-19 Agustus 2007, di Jakarta International Expo. Selain Jegog, pertunjukkan musik bambu lain dari beberapa daerah di Indonesia, akan ikut mewarnai perhelatan Festival Musik Bambu Nusantara.

Monday, July 9, 2007

Balawan

Salah satu penampil dalam Bambu Nusantara "World Music Festival" adalah I Wayan Balawan. Balawan lahir di Gianyar, Bali pada 9 September 1972. Mulai bermain gamelan pada usia 8 tahun dan mulai belajar gitar pada usia 12 tahun. Pada tahun 1993, Balawan mendapat beasiswa untuk belajar di Australian Institute of Music di Sydney selama 3 tahun. Beberapa tahun belakangan ini Balawan mulai mendalami teknik bermain gitar yang dikenal sebagai touch technique (tapping technique) dengan menggunakan 8 jari yang menyerupai piano. Dimana tangan sebelah kiri berfungsi memainkan kord dan bass sedang tangan kanan memainkan melodi.
Sekembalinya ia dari Australia tahun 1997, Balawan kemudian membentuk kelompok Batuan Ethnic Fusion yang terdiri dari I Wayan Balawan, I Wayan "pecok" Suastika, I wayan "mangku" Sudarsana, I Nyoman Marcono, I Nyoman "panak supire" Suwidha, I Gusti Agung Bagus Mantra, I Gusti Agung Ayu Risna Dewi dan Ito Kurdhi. Mereka memainkan berbagai instrumen seperti Cengceng, Rindik, Reong, Suling, Genjek, Kemply, Cymbals, Kendang dan lain-lain.Kelompok ini tampil secara reguler di Bali, juga sempat tampil di Jakarta Jazz Festival tahun 1997. Balawan juga sempat tampil dalam acara BALI JAZZ PARADE yang digagas oleh Bali Jazz Forum. Dengan menampilkan perpaduan alat musik elektrik (gitar dan bass) dengan instrumen tradisi Bali, Batuan Ethnic Fusion menjadi group yang unik. Bahkan dalam beberapa kesempatan di Bali, Batuan Ethnic Fusion tidak hanya tampil dalam bentuk musik hidup namun juga ditemani dengan penari.

Pada Oktober 1999, Balawan & Batuan Ethnic Fusion merilis album debut mereka yang berjudul gloBALIsm. Sebuah album yang digarap oleh produser Dewa Budjana, dengan label Chico & Ira Productions dan didistribusikan oleh Aquarius Musikindo. Komposisi yang ditawarkan merupakan paduan antara musik tradisional Bali dengan sentuhan modern, dengan lirik yang mencampurkan bahasa Bali dan Inggris. Terdapat juga penampilan Balawan secara solo dan duet dengan Dewa Budjana.

Proses rekaman album gloBALIsm dilakukan di Stasiun RRI Denpasar oleh Jimmy Sila. Namun untuk dua lagu, 'Putri Cening Ayu' dan 'Morning of the Earth' direkam di Studio oleh Dewa Budjana. Bagian mixing dan mastering digarap oleh Indra Lesmana.

Tahun 2001 lalu, I Wayan Balawan lewat sebuah label Jerman, Acoustic Music Records merilis album yang diberi titel sesuai dengan namanya sendiri, Balawan. Album ini berisi 17 lagu yang merupakan paduan antara nomor standar dan orisinil bahkan tradisional bali yang khas. Ada karya Antonio Carlos Jobim, Cole Porter, V. Young, Duke Ellington, G. Gershwin dan lain-lain. Yang menarik salah satunya tentu saja adalah 'Putri Cening Ayu' yang dimainkan dengan teknik 'touch/touch' tapping menggunakan gitar bersenar 12.
Dalam linear notesnya ia menulis, "Music is a gift. It is an expression of life. An Image of the soul. I dont consider my music as belonging to any particular genre...." (Sumber:WartaJazz.com)

SonoSeni Ensemble

SonoSeni Ensamble adalah sekelompok pemusik yang mendasarkan sikap learning prosses sebagai basis penciptaan karya musik baru. Sekurangnya sejak Juli 1998 (di studio Sono Seni Solo), kelompok ini secara intens menggali kemungkinan perspektif baru dalam berolah musik. Menggali sumber musik baru (new sources) adalah komitmen SonoSeni Ensamble.Pendekatan garap musikal SonoSeni Ensamle berangkat dari instrumen musik apa pun. Termasuk juga alat-alat combo band (alat-alat musik populer). Namun, pendekatan ini tidak disandarkan pada kepasrahan total kepada imagi mainstream (pop), melainkan sebuah eksplorasi untuk mengembalikan harkat alat musik pada hakekat sejatinya, yaitu: sumber bunyi yang bebas nilai. Penggunaan alat-alat band semata untuk mendekatkan keberadaan musik baru ke dalam masyarakat yang lebih luas --karena alat band jauh lebih populer daripada alat-alat tradisional. Artinya, lebih ditekankan pada siasat bunyi yang sangat leluasa. Niscaya dari alat-alat tersebut akan muncul kekuatan tradisi musik tertentu, dengan potensi para pemusik yang berakar dari latar belakang tradisi yang beragam.Para komponis SonoSeni Ensamble adalah sekumpulan pemusik yang bhinneka dalam suku, disiplin ilmu, dan latar belakang musikal. Mereka telah melahirkan banyak karya, dan telah dipentaskan di kota-kota besar di Indonesia maupun manca negara. Bulan Juli dan Agustus 1999, tampil di Saporo Music Festival (Jepang) dan Weimar Kultur Stad Europas’99 (Jerman) membawakan karya komponis I Wayan Sadra. Bulan Juni 2000 tampil di Festival Millenium 2k di Santiago de Compostela, Spanyol. Pada September 2000 Art Network Asia (ANA) di Singapore memberikan grand untuk berkolaborasi dengan pemusik Jepang, Takahito Hayashi. Lalu, pada Maret 2001 mendapat bantuan Hibah untuk Pentas Keliling Jawa, Bali dan Lombok. Dilanjutkan kemudian di Sulawesi, dan pada Oktober 2002 melakukan Tour Show di kota-kota besar Sumatera membawakan karya-karya Agus Bing. Tampil juga di Bali World Music Festival pada Agustus tahun lalu. Di samping, kerap juga tampil pada forum-forum seni rupa dan satra internasional. SonoSeni Ensamble telah menerbitkan album: “Suita 42 Hari” (2001) yang merupakan album kolaborasi dengan pemain saxophone asal Jepang, Takahito Hayashi. Pada Maret 2002 meluncurkan album “Autis 4 J”. Kemudian, pada Maret 2004, meluncurkan album “Suita Suit” yang direkam secara live pada konser pertamanya (berkolaborasi dengan John Jacobs, pemusik jazz dari Inggris), 29 Juli 1999, di Taman Budaya Surakarta.Mengisi tahun 2006, Sono Seni Ensemble kembali kedatangan John Jacobs dan Charlote Puch untuk berproses. Sebagai hasilnya menggelar pertuntunjukan musik bertajuk “No End In Sight” pada tanggal 5 & 6 Maret 2006, di Teater Arena Taman Budaya Jawa.

Friday, July 6, 2007

Suling Dewa


Suling Dewa atau Suling Dewe adalah alat musik tiup asal masyarakat Bayan, Lombok Barat. Suling Dewa dilantunkan untuk memanggil hujan, di saat musim kemarau panjang. Di masa lampau, pemimpin adat bersama-sama warga dusun, lengkap dengan pakaian tradisional, melakukan ritual mohon hujan. Alunan suara seruling dewa, mengiringi warga dusun menari sembari memanjatkan do`a, memohon kepada Yang Kuasa agar diberi hujan. Alunan menyayat hati, mengiringi doa dan puji-pujian, menjadikan
suasana begitu sakral.

Bambu yang dijadikan bahan dasar suling dewa pun adalah bambu pilihan. Bambu pilihan ini tak begitu saja ditebang. Acara ritual digelar lebih dulu, memohon agar diberi keselamatan, dijauhkan dari marabahaya terutama gangguan mahluk jahat. Penginang yang telah dipersiapkan dari rumah, menjadi pelengkap ritual. Si pembuat suling dewa harus melakukan upacara persembahan pada leluhur dan untuk si penunggu rumpun bambu, agar diberi kemudahan dalam memotong bambu. Inilah yang disebut bambu seruru, bambu pilihan dengan diameter sekitar 8 sentimeter itu, lalu dijemur sampai kering.

Konon tak sembarang orang dapat membuat suling dewa, begitu pula peniup suling dewa, haruslah mereka yang memiliki keturunan sesepuh Bayan. Dalam sekejap mata, suling dewa telah selesai dibuat. Sayangnya , ritual suling dewa, mulai ditinggalkan masyarakat. Tradisi yang telah turun temurun selama puluhan tahun di masa lalu itu, untuk itu Festival Musik Bambu Nusantara mencoba memberikan angin segar untuk terngiangnya kembali suling dewa di masyarakat.

Saturday, June 30, 2007

OPENING ACT :

Jampana

Egrang


MUSIK BAMBU KLASIK :

Angklung Nusantara
Jegog Bali
Bambu Melulu


MUSIK BAMBU KONTEMPORER :

Sambasunda
Krakatau
Sonoseni Ensemble
Discus & Gamelan Saraswati
Balawan


MUSIK BAMBU INDI(GENOUS) :

Towana
Angklung Banyuwangi
Angklung Buhun
Rindik
Genggong
Tarling
Arumba
Joged Bumbung
Calung Banyumas
Sasando


SERULING NUSANTARA :

Saluang
Suling Dewa
Toleat
Serunai
Suling Panjang
Terompet Bambu
Kedire
Suling Susun Enrekang


BAMBU CHILLOUT :

Dannet
Soulflip