
Suling Dewa atau Suling Dewe adalah alat musik tiup asal masyarakat Bayan, Lombok Barat. Suling Dewa dilantunkan untuk memanggil hujan, di saat musim kemarau panjang. Di masa lampau, pemimpin adat bersama-sama warga dusun, lengkap dengan pakaian tradisional, melakukan ritual mohon hujan. Alunan suara seruling dewa, mengiringi warga dusun menari sembari memanjatkan do`a, memohon kepada Yang Kuasa agar diberi hujan. Alunan menyayat hati, mengiringi doa dan puji-pujian, menjadikan
suasana begitu sakral.
Bambu yang dijadikan bahan dasar suling dewa pun adalah bambu pilihan. Bambu pilihan ini tak begitu saja ditebang. Acara ritual digelar lebih dulu, memohon agar diberi keselamatan, dijauhkan dari marabahaya terutama gangguan mahluk jahat. Penginang yang telah dipersiapkan dari rumah, menjadi pelengkap ritual. Si pembuat suling dewa harus melakukan upacara persembahan pada leluhur dan untuk si penunggu rumpun bambu, agar diberi kemudahan dalam memotong bambu. Inilah yang disebut bambu seruru, bambu pilihan dengan diameter sekitar 8 sentimeter itu, lalu dijemur sampai kering.
Konon tak sembarang orang dapat membuat suling dewa, begitu pula peniup suling dewa, haruslah mereka yang memiliki keturunan sesepuh Bayan. Dalam sekejap mata, suling dewa telah selesai dibuat. Sayangnya , ritual suling dewa, mulai ditinggalkan masyarakat. Tradisi yang telah turun temurun selama puluhan tahun di masa lalu itu, untuk itu Festival Musik Bambu Nusantara mencoba memberikan angin segar untuk terngiangnya kembali suling dewa di masyarakat.
suasana begitu sakral.
Bambu yang dijadikan bahan dasar suling dewa pun adalah bambu pilihan. Bambu pilihan ini tak begitu saja ditebang. Acara ritual digelar lebih dulu, memohon agar diberi keselamatan, dijauhkan dari marabahaya terutama gangguan mahluk jahat. Penginang yang telah dipersiapkan dari rumah, menjadi pelengkap ritual. Si pembuat suling dewa harus melakukan upacara persembahan pada leluhur dan untuk si penunggu rumpun bambu, agar diberi kemudahan dalam memotong bambu. Inilah yang disebut bambu seruru, bambu pilihan dengan diameter sekitar 8 sentimeter itu, lalu dijemur sampai kering.
Konon tak sembarang orang dapat membuat suling dewa, begitu pula peniup suling dewa, haruslah mereka yang memiliki keturunan sesepuh Bayan. Dalam sekejap mata, suling dewa telah selesai dibuat. Sayangnya , ritual suling dewa, mulai ditinggalkan masyarakat. Tradisi yang telah turun temurun selama puluhan tahun di masa lalu itu, untuk itu Festival Musik Bambu Nusantara mencoba memberikan angin segar untuk terngiangnya kembali suling dewa di masyarakat.
No comments:
Post a Comment